Jika setiap pagi bank memberi anda pinjaman uang sebesar Rp. 86.400,- bebas untuk digunakan hanya pada hari itu saja, pada saatnya nanti anda harus bertanggungjawab kepada pemilik bank. apa yang anda lakukan? Pastinya anda akan memanfaatkan uang itu sebaik-baiknya sebelum hari itu berakhir. Daripada hangus begitu saja.
Kita semua diberi pinjaman oleh PEMILIK BANK KEHIDUPAN, namanya WAKTU. Setiap pagi, IA akan memberi anda pinjaman 86.400 detik atau 1440 menit atau 24 jam .Yang akan hangus jika tidak digunakan pada hari itu juga. Tidak ada waktu tambahan dan tidak ada juga “uang muka” untuk pinjaman esok harinya. pada saatnya jam kehidupan masih berdentang gunakan dengan sebaik-baiknya. tapi pada saatnya jam kehidupan itu berhenti, anda harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah anda belanjakan selama waktu itu diberikan ditangan anda .silahkan anda bebas membelanjakan sepuas-puasnya, apakah dengan hal-hal yang jahat, atau hal-hal yang positif dan membangun. atau justru anda sia-siakan waktu itu berlalu dengan terbuang percuma....
Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN,
tanyakan pada murid yang tidak naik kelas.
Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN,
tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur
Agar tahu pentingnya waktu SEHARI,
tanyakan pada orang yang harus bayar hutang yang sudah jatuh tempo.
Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT,
tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbang
Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK,
tanyakan pada peraih juara 2 Balap Formula 1
Waktu terus berjalan tanpa bisa kita menghentikannya. kita belum tentu menjadi calon presiden, tetapi calon mayat itu pasti. Hiduplah dengan arif dan bijaksana.
Download
Cantik buat kaum hawa itu mutlak. Cantik bukan hanya diukur dari paras wajah, tapi juga etika, ketrampilan, wawasan, cara berbusana, cara membawa diri, cara berbicara, dan masih banyak lagi parameternya. Memang tidak ada kecantikan sempurna, tapi sebaiknya setiap kita selalu berusaha untuk menjadi cantik. Belajar banyak hal adalah salah satu caranya. Semoga hal-hal sederhana di sini bisa memberikan manfaat buat kita semua..
Rabu, Desember 03, 2008
Angin dalam hidup kita
Ada tiga jenis angin: angin kencang, topan, dan angin semilir.
Seekor monyet sedang asyik diatas pohon kelapa meminum dan memakan buah yang sedang ranumnya. Tak sengaja saat itu tiga angin akan datang menuju pohon kelapa tersebut. tiba-tiba sang angin kencang mengajak angin topan dan angin semilir untuk adu kekuatan, siapakah dari mereka yang mampu menjatuhkan sang monyet dari pohon kelapa tersebut. Mulailah angin kencang dengan kekuatannya menerpa monyet dengan segala kekuatannya. Namun ternyata sang monyet pegangan yang erat sekali dan mampu bertahan hingga angin tersebut melewatinya.
Melihat angin kencang gagal, angin topan pun memperbesar kekuatannya dan menghantam monyet tersebut. Dan lagi-lagi monyet itu memegang erat-erat pohon kelapa dan membuktikan ketangguhannya menghadapi angin topan yang dashyat.
Kini tinggal giliran angin semilir yang lewat. Selesai angin semilir lewat tiba-tiba terdengar bunyi keras, BRUUUUUUKKKKK!!!.
Rupanya si monyet terjatuh. monyet itu terjatuh karena ketika angin semilir lewat langsung menuju ubun-ubun si monyet, lalu karena merasa tenang nyaman maka ia pun mengantuk dan lepaslah pegangannya dari pohon kelapa.
Sodara-sodare,
Ujian kehidupan memang luar biasa. Ada orang yang kuat ketika menghadapi kerasnya dunia seberat apapun. Justru mereka dapat bertahan dan menemukan cara untuk menghadapi derasnya angin kehidupan...
Namun tatkala kita mulai diberi kemudahan oleh Sang Pencipta, kita menjadi kaya, punya kedudukan, fasilitas dan kenyamanan yang menyenangkan, mulailah kita sering lupa dan terlena. kalau tidak hati-hati kita bisa terjatuh...
Kemudahan - kemudahan yang diberikan justru malah membuat kita lepas dari pegangan norma -norma yang ada. melupakan asal muasal kita,tidak memandang manusia sebagai manusia, bahkan mulai tidak lagi membutuhkan Tuhan.
Waspadalah... waspadalah ...!!!!
Seekor monyet sedang asyik diatas pohon kelapa meminum dan memakan buah yang sedang ranumnya. Tak sengaja saat itu tiga angin akan datang menuju pohon kelapa tersebut. tiba-tiba sang angin kencang mengajak angin topan dan angin semilir untuk adu kekuatan, siapakah dari mereka yang mampu menjatuhkan sang monyet dari pohon kelapa tersebut. Mulailah angin kencang dengan kekuatannya menerpa monyet dengan segala kekuatannya. Namun ternyata sang monyet pegangan yang erat sekali dan mampu bertahan hingga angin tersebut melewatinya.
Melihat angin kencang gagal, angin topan pun memperbesar kekuatannya dan menghantam monyet tersebut. Dan lagi-lagi monyet itu memegang erat-erat pohon kelapa dan membuktikan ketangguhannya menghadapi angin topan yang dashyat.
Kini tinggal giliran angin semilir yang lewat. Selesai angin semilir lewat tiba-tiba terdengar bunyi keras, BRUUUUUUKKKKK!!!.
Rupanya si monyet terjatuh. monyet itu terjatuh karena ketika angin semilir lewat langsung menuju ubun-ubun si monyet, lalu karena merasa tenang nyaman maka ia pun mengantuk dan lepaslah pegangannya dari pohon kelapa.
Sodara-sodare,
Ujian kehidupan memang luar biasa. Ada orang yang kuat ketika menghadapi kerasnya dunia seberat apapun. Justru mereka dapat bertahan dan menemukan cara untuk menghadapi derasnya angin kehidupan...
Namun tatkala kita mulai diberi kemudahan oleh Sang Pencipta, kita menjadi kaya, punya kedudukan, fasilitas dan kenyamanan yang menyenangkan, mulailah kita sering lupa dan terlena. kalau tidak hati-hati kita bisa terjatuh...
Kemudahan - kemudahan yang diberikan justru malah membuat kita lepas dari pegangan norma -norma yang ada. melupakan asal muasal kita,tidak memandang manusia sebagai manusia, bahkan mulai tidak lagi membutuhkan Tuhan.
Waspadalah... waspadalah ...!!!!
BULU ANGSA
Lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh namun dapat memegahkan perkara-perkara besar. Dan lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar...
Pada abad ke sebelas ketika itu Bao Zheng seorang hakim yang dikenal adil dan bijaksana pada jaman Dinasti Song Utara sedang menangani sebuah kasus fitnah yang dilakukan oleh seorang warga kota Kaifeng di Provinsi Henan karena persaingan usaha. Pria separuh baya itu telah terbukti menyebarkan kata-kata fitnah yang sangat merugikan pengusaha lainnya.
Didalam persidangan Hakim Bao menjatuhkan hukuman denda sebesar seratus tael perak dan jika tak sanggup membayar maka sebagai gantinya harus mendekam di penjara selama satu tahun. Pria terdakwa itu menangis tersedu-sedu mohon ampun seraya meminta keringanan hukuman. "Baiklah" kata Hakim Bao "Kamu akan mendapatkan keringanan hukuman namun ada syarat yang harus kamu lakukan."
"Apa itu yang mulia?" Tanya pria itu penuh harap.
Hakim Bao meminta para pengawal untuk membawa pria itu ke sebuah dataran diatas sebuah bukit dimana angin berhembus dingin dan kencang. Kemudian salah satu pengawal mengeluarkan sebuah kantung kecil berisi segenggam bulu angsa. "Bulu-bulu angsa ini akan disebarkan dan tugas kamu adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya bulu-bulu angsa itu, setiap helai bulu angsa bernilai satu tael perak.
Saat kantung dibuka, maka bulu-bulu angsa itu langsung beterbangan tinggi disapu angin yang bertiup sangat kencang. Pria itu bergegas berlari kesana kemari berusaha menangkap bulu-bulu angsa itu. Alhasil setelah beberapa jam, pria itu hanya memegang dua helai bulu angsa ditangannya. Dengan lunglai pria itu pun menerima keputusan hukuman yang telah dijatuhkan oleh Hakim Bao.
"Bulu-bulu angsa itu ibarat kata-kata yang telah kau ucapkan, seperti halnya bulu-bulu angsa yang beterbangan dan sungguh tidak mudah untuk ditangkap kembali, sama dengan kata-kata yang terlanjur kau keluarkan dari mulutmu, sungguh sulit untuk menariknya kembali" kata Hakim Bao.
"Lain kali berhati-hatilah dalam berucap" kata Hakim Bao menutup persidangan.
Satu hal lagi kita diingatkan, bisik-bisik, fitnah, kabar burung yang belum tentu teruji kebenarannya bila disebarkan akan menjadi api yang berbahaya, akan menghanguskan banyak hal...
Marilah kita bijak dalam berkata-kata..
Pada abad ke sebelas ketika itu Bao Zheng seorang hakim yang dikenal adil dan bijaksana pada jaman Dinasti Song Utara sedang menangani sebuah kasus fitnah yang dilakukan oleh seorang warga kota Kaifeng di Provinsi Henan karena persaingan usaha. Pria separuh baya itu telah terbukti menyebarkan kata-kata fitnah yang sangat merugikan pengusaha lainnya.
Didalam persidangan Hakim Bao menjatuhkan hukuman denda sebesar seratus tael perak dan jika tak sanggup membayar maka sebagai gantinya harus mendekam di penjara selama satu tahun. Pria terdakwa itu menangis tersedu-sedu mohon ampun seraya meminta keringanan hukuman. "Baiklah" kata Hakim Bao "Kamu akan mendapatkan keringanan hukuman namun ada syarat yang harus kamu lakukan."
"Apa itu yang mulia?" Tanya pria itu penuh harap.
Hakim Bao meminta para pengawal untuk membawa pria itu ke sebuah dataran diatas sebuah bukit dimana angin berhembus dingin dan kencang. Kemudian salah satu pengawal mengeluarkan sebuah kantung kecil berisi segenggam bulu angsa. "Bulu-bulu angsa ini akan disebarkan dan tugas kamu adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya bulu-bulu angsa itu, setiap helai bulu angsa bernilai satu tael perak.
Saat kantung dibuka, maka bulu-bulu angsa itu langsung beterbangan tinggi disapu angin yang bertiup sangat kencang. Pria itu bergegas berlari kesana kemari berusaha menangkap bulu-bulu angsa itu. Alhasil setelah beberapa jam, pria itu hanya memegang dua helai bulu angsa ditangannya. Dengan lunglai pria itu pun menerima keputusan hukuman yang telah dijatuhkan oleh Hakim Bao.
"Bulu-bulu angsa itu ibarat kata-kata yang telah kau ucapkan, seperti halnya bulu-bulu angsa yang beterbangan dan sungguh tidak mudah untuk ditangkap kembali, sama dengan kata-kata yang terlanjur kau keluarkan dari mulutmu, sungguh sulit untuk menariknya kembali" kata Hakim Bao.
"Lain kali berhati-hatilah dalam berucap" kata Hakim Bao menutup persidangan.
Satu hal lagi kita diingatkan, bisik-bisik, fitnah, kabar burung yang belum tentu teruji kebenarannya bila disebarkan akan menjadi api yang berbahaya, akan menghanguskan banyak hal...
Marilah kita bijak dalam berkata-kata..
Cacat
Tentang human being, Memanusiakan manusia, menggugah kepekaan kita terhadap sesama..
CACAT
Sebuah toko hewan peliharaan (pet store) memasang papan iklan yang menarik bagi anak-anak kecil, “dijual anak anjing”. Segera saja seorang anak lelaki datang, masuk
ke dalam toko dan bertanya “Berapa harga anak anjing yang anda jual itu?”
Pemilik toko itu menjawab, “Harganya berkisar antara 30 - 50 Dollar.”
Anak lelaki itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping uang, “Aku hanya mempunyai 2,37 Dollar, bisakah aku melihat-lihat anak anjing yang anda jual itu?”
Pemilik toko itu tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing-anjingnya. Tak lama dari kandang anjing munculah anjingnya yang bernama Lady yang diikuti oleh lima ekor anak anjing. Mereka berlari-larian di sepanjang lorong toko. Tetapi, ada satu anak anjing yang tampak berlari tertinggal paling belakang.
Si anak lelaki itu menunjuk pada anak anjing yang paling terbelakang dan tampak cacat itu. Tanyanya, “Kenapa dengan anak anjing itu?
Pemilik toko menjelaskan bahwa ketika dilahirkan anak anjing itu mempunyai kelainan di pinggulnya, dan akan menderita cacat seumur hidupnya.
Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata, “Aku beli anak anjing yang cacat itu.”
Pemilik toko itu menjawab, “Jangan, jangan beli anak anjing yang cacat itu. Tapi jika kau ingin memilikinya, aku akan berikan anak anjing itu padamu.”
Anak lelaki itu jadi kecewa. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, “Aku tak mau kau memberikan anak anjing itu cuma-cuma padaku. Meski cacat anak anjing itu tetap mempunyai harga yang sama sebagaimana anak anjing yang lain. Aku akan bayar penuh harga anak anjing itu. Saat ini aku hanya mempunyai 2,35 Dollar. Tetapi setiap hari akan akan mengangsur 0,5 Dollar sampai lunas harga anak anjing itu.”
Tetapi lelaki itu menolak, “Nak, kau jangan membeli anak anjing ini. Dia tidak bisa lari cepat. Dia tidak bisa melompat dan bermain sebagaiman anak anjing lainnya.”
Anak lelaki itu terdiam. Lalu ia melepas menarik ujung celana panjangnya. Dari balik celana itu tampaklah sepasang kaki yang cacat. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, “Tuan, aku pun tidak bisa berlari dengan cepat. Aku pun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main sebagaimana anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing itu membutuhkan seseorang yang mau mengerti penderitaannya.”
Kini pemilik toko itu menggigit bibirnya. Air mata menetes dari sudut matanya. Ia tersenyum dan berkata, “Aku akan berdoa setiap hari agar anak-anak anjing ini mempunyai majikan sebaik engkau.”
Bahkan mereka yang cacat pun mempunyai nilai yang sama dengan mereka yang normal……………
Sahabat,
Hanya orang yang pernah mengalami penderitaan yang bisa menolong dan menyelami penderitaan orang lain. Pandanglah sekitar anda, mungkin mereka tidak seberuntung kita, dan mungkin anda belum pernah mengalami penderitaan sedahsyat mereka... hal tersebut yang kadang membuat mata hati kita tumpul..
atau sebaliknya, ketika anda mengalami penderitaan, justru hal tersebut membuat kita bisa memahami penderitaan orang lain..
Jadi, jangan tunggu sampai anda menderita dulu baru bisa memahami orang lain.
CACAT
Sebuah toko hewan peliharaan (pet store) memasang papan iklan yang menarik bagi anak-anak kecil, “dijual anak anjing”. Segera saja seorang anak lelaki datang, masuk
ke dalam toko dan bertanya “Berapa harga anak anjing yang anda jual itu?”
Pemilik toko itu menjawab, “Harganya berkisar antara 30 - 50 Dollar.”
Anak lelaki itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping uang, “Aku hanya mempunyai 2,37 Dollar, bisakah aku melihat-lihat anak anjing yang anda jual itu?”
Pemilik toko itu tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing-anjingnya. Tak lama dari kandang anjing munculah anjingnya yang bernama Lady yang diikuti oleh lima ekor anak anjing. Mereka berlari-larian di sepanjang lorong toko. Tetapi, ada satu anak anjing yang tampak berlari tertinggal paling belakang.
Si anak lelaki itu menunjuk pada anak anjing yang paling terbelakang dan tampak cacat itu. Tanyanya, “Kenapa dengan anak anjing itu?
Pemilik toko menjelaskan bahwa ketika dilahirkan anak anjing itu mempunyai kelainan di pinggulnya, dan akan menderita cacat seumur hidupnya.
Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata, “Aku beli anak anjing yang cacat itu.”
Pemilik toko itu menjawab, “Jangan, jangan beli anak anjing yang cacat itu. Tapi jika kau ingin memilikinya, aku akan berikan anak anjing itu padamu.”
Anak lelaki itu jadi kecewa. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, “Aku tak mau kau memberikan anak anjing itu cuma-cuma padaku. Meski cacat anak anjing itu tetap mempunyai harga yang sama sebagaimana anak anjing yang lain. Aku akan bayar penuh harga anak anjing itu. Saat ini aku hanya mempunyai 2,35 Dollar. Tetapi setiap hari akan akan mengangsur 0,5 Dollar sampai lunas harga anak anjing itu.”
Tetapi lelaki itu menolak, “Nak, kau jangan membeli anak anjing ini. Dia tidak bisa lari cepat. Dia tidak bisa melompat dan bermain sebagaiman anak anjing lainnya.”
Anak lelaki itu terdiam. Lalu ia melepas menarik ujung celana panjangnya. Dari balik celana itu tampaklah sepasang kaki yang cacat. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, “Tuan, aku pun tidak bisa berlari dengan cepat. Aku pun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main sebagaimana anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing itu membutuhkan seseorang yang mau mengerti penderitaannya.”
Kini pemilik toko itu menggigit bibirnya. Air mata menetes dari sudut matanya. Ia tersenyum dan berkata, “Aku akan berdoa setiap hari agar anak-anak anjing ini mempunyai majikan sebaik engkau.”
Bahkan mereka yang cacat pun mempunyai nilai yang sama dengan mereka yang normal……………
Sahabat,
Hanya orang yang pernah mengalami penderitaan yang bisa menolong dan menyelami penderitaan orang lain. Pandanglah sekitar anda, mungkin mereka tidak seberuntung kita, dan mungkin anda belum pernah mengalami penderitaan sedahsyat mereka... hal tersebut yang kadang membuat mata hati kita tumpul..
atau sebaliknya, ketika anda mengalami penderitaan, justru hal tersebut membuat kita bisa memahami penderitaan orang lain..
Jadi, jangan tunggu sampai anda menderita dulu baru bisa memahami orang lain.
Senin, Desember 01, 2008
Menghargai orang lain
Mungkin sudah beberapa kali kita mendapatkan nasehat untuk menghargai orang... kalau toh cerita dibawah ini untuk yang kesekian kali, tapi untuk kesekian kali pula kita patut merenungkannya...
Menghargai orang lain
Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa pensiun dari perusahaan tersebut.
Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan dalam bentuk tulisan. Diantara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan di acara tersebut, yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu. Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut,
"Yang terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata "tolong", setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah mengucapkan "maaf", saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha memberitahu setiap kesalahan yang telah diperbuat karena Bapak ingin saya merubahnya menjadi kebaikan.
Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan "terima kasih" kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak. Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan. Dan sampai kapan pun bapak adalah Pak Direktur buat saya. Terima kasih sekali lagi. Semoga Tuhan meridhoi jalan dimanapun Pak Direktur berada. Amin."
Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan seluruh isi kantor.
Pak Direktur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan yang selama ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan biasa-biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang kecil seperti si office boy tersebut. Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, karena seluruh isi kantor itu setuju dan sepakat bahwa keteladanan dan kepemimpinan Pak Direktur akan mereka teruskan sebagai budaya di perusahaan itu.
Tiga kata "terimakasih, maaf, dan tolong" adalah kalimat pendek yang sangat sederhana tetapi mempunyai dampak yang positif. Namun mengapa kata-kata itu kadang sangat sulit kita ucapkan? Sebenarnya secara tidak langsung telah menunjukkan keberadaban dan kebesaran jiwa sosok manusia yang mengucapkannya. Apalagi diucapkan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya.
Pemimpin bukan sekedar memerintah dan mengawasi, tetapi lebih pada sikap keteladanan lewat cara berpikir, ucapan, dan tindakan yang mampu membimbing, membina, dan mengembangkan yang dipimpinnya sehingga tercipta sinergi dalam mencapai tujuan bersama.
Tentu bagi siapapun kita perlu membiasakan mengucapkan kata-kata pendek seperti terima kasih, maaf, dan tolong dimana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun kita berhubungan.
Dengan mampu menghargai orang lain minimal kita telah menghargai diri kita sendiri.
Menghargai orang lain
Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa pensiun dari perusahaan tersebut.
Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan dalam bentuk tulisan. Diantara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan di acara tersebut, yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu. Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut,
"Yang terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata "tolong", setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah mengucapkan "maaf", saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha memberitahu setiap kesalahan yang telah diperbuat karena Bapak ingin saya merubahnya menjadi kebaikan.
Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan "terima kasih" kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak. Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan. Dan sampai kapan pun bapak adalah Pak Direktur buat saya. Terima kasih sekali lagi. Semoga Tuhan meridhoi jalan dimanapun Pak Direktur berada. Amin."
Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan seluruh isi kantor.
Pak Direktur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan yang selama ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan biasa-biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang kecil seperti si office boy tersebut. Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, karena seluruh isi kantor itu setuju dan sepakat bahwa keteladanan dan kepemimpinan Pak Direktur akan mereka teruskan sebagai budaya di perusahaan itu.
Tiga kata "terimakasih, maaf, dan tolong" adalah kalimat pendek yang sangat sederhana tetapi mempunyai dampak yang positif. Namun mengapa kata-kata itu kadang sangat sulit kita ucapkan? Sebenarnya secara tidak langsung telah menunjukkan keberadaban dan kebesaran jiwa sosok manusia yang mengucapkannya. Apalagi diucapkan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya.
Pemimpin bukan sekedar memerintah dan mengawasi, tetapi lebih pada sikap keteladanan lewat cara berpikir, ucapan, dan tindakan yang mampu membimbing, membina, dan mengembangkan yang dipimpinnya sehingga tercipta sinergi dalam mencapai tujuan bersama.
Tentu bagi siapapun kita perlu membiasakan mengucapkan kata-kata pendek seperti terima kasih, maaf, dan tolong dimana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun kita berhubungan.
Dengan mampu menghargai orang lain minimal kita telah menghargai diri kita sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)